PPLH IPB rekomendasikan model pengelolaan dan pemantauan area NKT/SKT di Cagar Biosfer Betung Kerihun, Danau Sentarum, Kalimantan Barat

PPLH IPB rekomendasikan model pengelolaan dan pemantauan area NKT/SKT di Cagar Biosfer Betung Kerihun, Danau Sentarum, Kalimantan Barat

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), IPB University atas permintaan dari Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH telah melakukan penilaian terhadap Nilai Konservasi Tinggi/Stok Karbon Tinggi (NKT/SKT) hingga menyusun strategi manajemen dan monitoring pada tanggal 8 hingga 11 Agustus 2022 di Cagar Biosfer Betung Kerihun, Danau Sentarum, Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Konsultasi publik sendiri telah dilakukan pada 10 Agustus 2022.

Dalam konsultasi publik tersebut, Ketua tim Dr. Syartinilia memaparkan hasil penilaian NKT/SKT berikut rekomendasi strategi manajemen dan monitoringnya bersama dengan anggota tim yaitu Ario Bhirowo, S.Hut., Zulfikri, S.Hut., Dr. Andrea Emma Pravitasari, Dr. Adisti Permatasari Putri Hartoyo, dan Dr. A. Faroby Falatehan. Ikut hadir pada kesempatan tersebut Dr. Yudi Setiawan, S.P., M.Env.Sc., selaku Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB yang tergabung dalam tim kajian tersebut.

GIZ-GmbH sendiri merupakan wadah kerjasama internasional untuk pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia atas nama Pemerintah Jerman bekerjasama dengan Kementerian Pertanian Indonesia untuk program jangka panjang SASCI+ dari Agustus 2020 hingga Maret 2025. Program global “Sustainability and Value Added in Agricultural Supply Chains” (SASCI+) merupakan bagian dari inisiatif khusus “One World – No Hunger”. Program ini mempromosikan keberlanjutan rantai pasokan pertanian terpilih di negara-negara mitra. Fokus komoditas pada program SASCI+ di Kapuas Hulu adalah karet alam dan kelapa sawit. Total luas area kajian kurang lebih tiga juta hektar yang terdiri dari zona inti, penyangga, dan transisi.

Dalam paparannya, tim dari PPLH IPB menyampaikan bahwa komoditas pertanian seperti karet alam atau kelapa sawit memainkan peran penting bagi pembangunan pedesaan dibanyak negara berkembang. Dimana, komoditas tersebut menjadi basis kehidupan bagi rumah tangga. Banyak rumah tangga petani berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka dan berinvestasi dalam praktik produksi yang berkelanjutan. Namun, proses produksi dan pengolahannya disertai dengan berbagai tantangan ekologi, ekonomi dan sosial. Seringkali komoditas tersebut dipasok sebagai bahan mentah yang belum diproses ke dalam rantai pasokan global, nilai tambah yang terbatas di negara-negara produsen menjadi hal yang perlu dibenahi.

Terjadinya deforestasi dan degradasi hutan untuk penambahan lahan pertanian atau perkebunan menjadi perhatian dunia internasional. Disisi lain, pasar global semakin menuntut produk bebas deforestasi yang aman dengan Nilai Konservasi Tinggi/Stok Karbon Tinggi (NKT/SKT) yang bersumber dari yurisdiksi pengelolaan secara berkelanjutan. Poin penting lainnya, penilaian NKT-SKT di Cagar Biosfer ditargetkan menjadi prasyarat dalam perencanaan tata ruang guna meningkatkan upaya pengelolaan NKT-SKT demi pembangunan berkelanjutan berdasarkan yurisdiksi.

Peneliti PPLH, IPB University menghasilkan pemetaan detail NKT/SKT di Kapuas Hulu yaitu sebesar 74.98 persen (2.337.202,35 ha). Kemudian hasil pemetaan NKT/SKT ini dilanjutkan untuk menentukan Go No Go area dengan melakukan overlay antara NKT/SKT dengan tutupan hutan eksisting. Hasilnya, direkomendasikan tiga prioritas No Go area (prioritas 1, 2, dan 3) dan Go area. Pembangunan dan kegiatan budidaya direkomendasikan hanya pada Go area, sementara itu, untuk di No Go area prioritas 2 dan 3 masih bisa dilakukan kegiatan budidaya yang memegang prinsip berkelanjutan dalam bentuk praktek memadukan pengelolaan hutan kayu dengan komoditas tanaman jangka pendek (agroforestri), kombinasi tanaman kehutanan dan pertanian (agrisilvikultur), kombinasi usaha kehutanan dengan budidaya ikan (silvofisheri), dan usaha peternakan lebah (apikultur).

Dalam rekomendasi manajemen adaptif di No Go prioritas 2 dan 3 diterapkan dengan memperhatikan kondisi kesesuaian lahan (karet dan sawit), lahan gambut/mineral, serta zonasi cagar biosfer. Kajian ini merekomendasikan strategi pengelolaan dan monitoring melalui rekomendasi manajemen tindakan/aksi, manajemen adaptif NKT-SKT, dan rekomendasi monitoring (strategis, operasional, dan ancaman). Rekomendasi spesies yang dipilih pada praktek agroforestri adalah berbagai jenis spesies tanaman endemik dan lokal untuk dikombinasikan dengan karet dan sawit pada area yang sesuai. Secara umum, strategi manajemen dan monitoring NKT-SKT dilakukan dalam bentuk konservasi, restorasi, dan produksi berkelanjutan yang fokus pada zona penyangga dan transisi dari Cagar Biosfer Betung Kerihun, Danau Sentarum.

Konsultasi publik dilakukan secara hybrid dengan total peserta yang hadir offline sebanyak 59 orang dan online sebanyak 8 orang dari perwakilan pemerintah daerah, akademisi, perusahaan, LSM, dan masyarakat adat yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Acara dibuka oleh Agustinus Stormandi, S.E, M.Si., selaku perwakilan Asisten 2 Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, di Moderatori oleh Dwi Kusharyono, S.Hut, M.Eng., selaku Penyuluh Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kapuas Hulu dan Tim GIZ. Acara ditutup oleh Bapak Indra Kumara, S. Hut, M.Si., selaku Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kapuas Hulu.[my]

One thought on “PPLH IPB rekomendasikan model pengelolaan dan pemantauan area NKT/SKT di Cagar Biosfer Betung Kerihun, Danau Sentarum, Kalimantan Barat”

  1. sattictal says:

    In one study that compared people with and without bladder cancer, researchers found that women who drank black tea and powdered green tea were less likely to develop bladder cancer best place to buy generic cialis online However, Creighton and colleagues found that genes regulated by estrogen in breast tumor cells in vitro are similarly regulated in vi vo in tumor xenografts and human tumors 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *